Merawang, BANGKA – Dalam rangka akselerasi peningkatan kompetensi, pengetahuan, dan keterampilan teknis secara berkala, RSUD Dr. (H.C.) Ir. Soekarno Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (RSUD Soekarno Babel) kembali menggelar pelatihan In-House Training (IHT) secara rutin bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan melalui Bidang Pendidikan dan Penelitian dengan tema ”Postoperative Care of Neurosurgical Patients" (Perawatan Pasca-Operasi Bedah Saraf).
Kegiatan ini dimulai pada pukul 13.00 WIB, bertempat di Gedung Pertemuan Eko Maulana Ali RSUD Soekarno Babel, yang dibuka langsung oleh Kepala Bidang Pendidikan dan Penelitian, Husaini, SKM mewakili Plt. Direktur RSUD Soekarno Babel, dengan dimoderatori oleh Juita S.Kep. Ners, M.Kep., Sp. Kep. M.B. serta menghadirkan narasumber dokter spesialis bedah saraf, dr. I Made Stepanus Biondi Pramantara, Sp. BS dan Perawat Ahli Pertama, Aris Purwanto, S.Kep, Ners.
Di hadapan peserta IHT yang dihadiri oleh para Tenaga Medis yang terdiri dari Dokter Umum dan Tenaga Kesehatan dari layanan IGD,, poli bedah saraf, IBS, ICU,SCU, RRA, RRD 1,2 dan 3 Bedah tersebut, Plt. Direktur melalui Kepala Bidang Pendidikan dan Pelatihan menekan pentingnya meningkatkan kemampuan dan keterampilan teknis bagi Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan guna meningkatkan mutu pelayanan dan peningkatan keselamatan pasien, terkhusus dalam menangani pasien bedah saraf.
“Setiap kita yang berkecimpung di jasa pelayanan kesehatan sebagai frontliner di rumah sakit wajib untuk selalu meningkatkan kapasitas dan kemampuan teknis dalam kaitan sebagai Profesional Pemberi Asuhan kepada Pasien”, ujarnya menyampaikan pesan dari Plt. Direktur.
Dalam paparannya selaku Narasumber, dokter spesialis bedah, dr. I Made Stepanus Biondi Pramantara, Sp. BS menekankan bahwa keberhasilan tindakan bedah saraf tidak hanya ditentukan di dalam ruang operasi, melainkan juga sangat bergantung pada proses perawatan pasca-tindakan.
Beliau mengatakan bahwa “Pasien yang baru saja menjalani operasi bedah saraf, seperti pengangkatan tumor otak atau koreksi tulang belakang, membutuhkan pemantauan intensif dan penanganan yang sangat spesifik.”
Pada fase awal atau periode akut, pasien biasanya akan dirawat di Unit Perawatan Intensif atau ICU. Di ruang ini, tim medis fokus menjaga kestabilan tanda-tanda vital, mendeteksi dini risiko pembengkakan otak, serta mengelola tingkat kesadaran pasien secara berkala. Kesalahan kecil atau keterlambatan respon pada fase ini dapat berdampak fatal pada sistem saraf pusat.
Setelah melewati masa kritis dan dipindahkan ke ruang rawat inap biasa, fokus perawatan beralih pada pemulihan fungsi tubuh. Manajemen nyeri yang tepat menjadi kunci agar pasien dapat merasa nyaman. Selain itu, mobilisasi dini yang dilakukan secara bertahap sangat disarankan untuk mencegah kekakuan otot dan penyumbatan pembuluh darah.
Proses pemulihan bedah saraf umumnya memerlukan waktu yang panjang. Oleh karena itu, keterlibatan tim multidisiplin termasuk dokter spesialis bedah saraf, perawat terlatih, serta ahli fisioterapi sangat dibutuhkan untuk mengembalikan kemandirian fisik dan fungsi kognitif pasien. Dukungan psikologis dari pihak keluarga juga memegang peran krusial dalam mempercepat proses penyembuhan mental dan emosional pasien selama masa rehabilitasi di rumah.
Sedangkan Aris Purwanto, S.Kep. Ners selaku Narasumber kedua menekankan pentingnya peran strategis perawat dalam mendukung prosedur Intraoperative Neurosurgery. “Perawat harus memahami langkah demi langkah tindakan dokter bedah bahkan sebelum diminta. komunikasi efektif di ruang operasi adalah kunci keselamatan pasien," ujarnya
Pada akhirnya, melalui pelatihan internal yang disesuaikan dengan kondisi riil rumah sakit ini, diharapkan RSUD Soekarno Babel dapat melahirkan tim medis, nakes yg lainnya yang sigap, profesional, dan patuh terhadap regulasi nasional, sehingga dapat meningkatkan kapasitas dan kinerja serta peningkatan efisiensi dan efektivitas mutu pelayanan rumah sakit.