Pendahuluan
Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan jangka panjang di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa setiap tahun lebih dari 12 juta orang mengalami stroke, dan sekitar setengah dari penyintas mengalami keterbatasan fungsi yang memerlukan rehabilitasi jangka panjang. Di Indonesia, stroke masih menjadi penyebab kematian tertinggi serta penyebab utama disabilitas pada usia dewasa. Oleh karena itu, rehabilitasi yang komprehensif menjadi bagian penting dalam tata laksana pasien pasca stroke untuk mengurangi kecacatan dan meningkatkan kualitas hidup (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia [Kemenkes RI], 2020; Powers et al., 2020).
Gangguan motorik yang sering muncul setelah stroke berupa hemiparesis, kelemahan otot, spastisitas, penurunan koordinasi, dan keterbatasan rentang gerak sendi (range of motion). Apabila kondisi tersebut tidak segera ditangani melalui latihan rehabilitasi, pasien berisiko mengalami kontraktur, atrofi otot, dekubitus, hingga ketergantungan dalam melakukan aktivitas sehari-hari (Activities of Daily Living/ADL) (Kemenkes RI, 2020; Winstein et al., 2016).
Salah satu intervensi rehabilitasi yang direkomendasikan adalah latihan Range of Motion (ROM). Latihan ini merupakan tindakan keperawatan yang sederhana, aman, mudah dilakukan, dan memiliki manfaat besar dalam mempertahankan fungsi muskuloskeletal, meningkatkan sirkulasi darah, mencegah komplikasi imobilisasi, serta mempercepat pemulihan fungsi motorik pasien pasca stroke (Brunner & Suddarth, 2022; Potter et al., 2021).
Apa Itu Latihan ROM?
Range of Motion (ROM) merupakan latihan menggerakkan persendian melalui rentang gerak fisiologis normal dengan tujuan mempertahankan maupun meningkatkan mobilitas sendi, elastisitas otot, kekuatan otot, serta kemampuan fungsional pasien. Pada pasien stroke, latihan ROM merupakan bagian integral dari rehabilitasi yang bertujuan mempertahankan fungsi neuromuskular dan mencegah terjadinya komplikasi akibat imobilisasi (Potter et al., 2021; Kemenkes RI, 2020).
Secara fisiologis, latihan ROM membantu meningkatkan aliran darah perifer, memperbaiki nutrisi jaringan, mempertahankan elastisitas tendon dan ligamen, menstimulasi proprioseptor, serta mempertahankan integritas kartilago sendi. Selain itu, latihan ROM berperan dalam memfasilitasi proses neuroplastisitas sehingga mendukung pemulihan fungsi motorik pada pasien pasca stroke (Brunner & Suddarth, 2022; Winstein et al., 2016).
Jenis-Jenis Latihan ROM
Menurut Potter et al. (2021), latihan ROM dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan kemampuan pasien.
ROM Pasif
ROM pasif dilakukan sepenuhnya oleh perawat atau anggota keluarga ketika pasien belum mampu menggerakkan ekstremitas akibat kelemahan otot, gangguan neurologis, atau penurunan kesadaran. Tujuan utama latihan ini adalah mempertahankan fleksibilitas sendi, mencegah kontraktur, serta menjaga sirkulasi darah perifer (Potter et al., 2021).
ROM Aktif-Asistif
ROM aktif-asistif dilakukan ketika pasien telah mampu melakukan sebagian gerakan tetapi masih memerlukan bantuan dari tenaga kesehatan atau keluarga. Latihan ini bertujuan meningkatkan kekuatan otot secara bertahap, memperbaiki koordinasi gerakan, dan meningkatkan kepercayaan diri pasien selama proses rehabilitasi (Brunner & Suddarth, 2022).
ROM Aktif
ROM aktif dilakukan sepenuhnya oleh pasien tanpa bantuan orang lain. Jenis latihan ini diberikan apabila kekuatan otot telah membaik sehingga pasien mampu melakukan gerakan secara mandiri. ROM aktif efektif meningkatkan kekuatan otot, koordinasi, keseimbangan, dan kemampuan fungsional pasien (Potter et al., 2021).
Manfaat Latihan ROM pada Pasien Pasca Stroke
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa latihan ROM yang dilakukan secara rutin mampu mempertahankan rentang gerak sendi, meningkatkan kekuatan otot, memperbaiki sirkulasi darah, mengurangi edema, mencegah atrofi otot dan kontraktur, serta meningkatkan kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Selain manfaat fisik, latihan ROM juga memberikan dampak psikologis berupa meningkatnya rasa percaya diri dan motivasi pasien selama menjalani rehabilitasi (Kemenkes RI, 2020; Powers et al., 2020; Winstein et al., 2016).
Posisi yang Aman Sebelum Melakukan ROM
Sebelum latihan dilakukan, pasien harus berada pada posisi yang nyaman dan stabil. Pasien dapat duduk di kursi yang kokoh atau berbaring di tempat tidur dengan bagian tubuh yang mengalami kelemahan disangga menggunakan bantal. Posisi yang ergonomis membantu mengurangi ketegangan otot, meningkatkan kenyamanan pasien, serta meminimalkan risiko cedera selama latihan berlangsung (Potter et al., 2021).
Aturan Melakukan Latihan ROM
Latihan ROM harus dilakukan secara bertahap, perlahan, dan tidak melebihi batas toleransi pasien. Gerakan tidak boleh dipaksakan karena dapat menyebabkan cedera jaringan lunak maupun nyeri sendi. Apabila pasien mengeluhkan nyeri tajam, sesak napas, kelelahan berat, atau perubahan kondisi neurologis, latihan harus segera dihentikan dan dilakukan evaluasi oleh tenaga kesehatan (Kemenkes RI, 2020; Brunner & Suddarth, 2022).
Kondisi yang Mengharuskan Latihan Ditunda
Latihan ROM sebaiknya ditunda apabila pasien mengalami demam tinggi, nyeri hebat, inflamasi sendi, fraktur yang belum stabil, perdarahan aktif, tekanan darah yang tidak terkontrol, atau kondisi medis akut lainnya. Penilaian kondisi pasien sebelum latihan merupakan bagian penting dalam menjamin keamanan rehabilitasi (Kemenkes RI, 2020; Powers et al., 2020).
Contoh Latihan ROM Pasca Stroke
Leher dan Kepala
Latihan dilakukan dengan menundukkan kepala, mengangkat kepala kembali, memiringkan kepala ke kanan dan kiri, kemudian memutar kepala secara perlahan sesuai toleransi pasien. Gerakan tersebut membantu mempertahankan fleksibilitas otot leher dan meningkatkan mobilitas sendi servikal (Potter et al., 2021).
Lengan dan Tangan
Gerakan meliputi fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi bahu, fleksi-ekstensi siku, rotasi pergelangan tangan, serta membuka dan menutup jari-jari tangan. Latihan ini bertujuan meningkatkan kekuatan otot ekstremitas atas, koordinasi gerakan, dan kemampuan fungsional pasien (Brunner & Suddarth, 2022).
Kaki dan Pergelangan Kaki
Latihan meliputi fleksi-ekstensi lutut, mengangkat tungkai lurus, plantar fleksi, dorsifleksi, dan rotasi pergelangan kaki. Latihan ini membantu mempertahankan kekuatan otot tungkai, meningkatkan sirkulasi perifer, mengurangi risiko trombosis vena dalam, serta mencegah kontraktur pada ekstremitas bawah (Potter et al., 2021; Kemenkes RI, 2020).
Peran Keluarga dalam Membantu Latihan ROM
Keluarga memiliki peran penting dalam keberhasilan rehabilitasi pasien stroke. Dukungan keluarga tidak hanya berupa bantuan fisik selama latihan, tetapi juga memberikan motivasi, mengingatkan jadwal latihan, memastikan teknik latihan dilakukan dengan benar, serta menciptakan lingkungan yang mendukung proses pemulihan. Pendampingan keluarga secara konsisten terbukti meningkatkan kepatuhan pasien terhadap program rehabilitasi dan mempercepat peningkatan kemampuan fungsional (Winstein et al., 2016; Kemenkes RI, 2020).
Jadwal Latihan yang Dianjurkan
Latihan ROM dianjurkan dilakukan secara rutin sebanyak 2–3 kali setiap hari, dengan setiap gerakan diulang 8–10 kali sesuai toleransi pasien. Frekuensi latihan harus disesuaikan dengan kondisi klinis pasien dan dievaluasi secara berkala oleh tenaga kesehatan agar memberikan hasil rehabilitasi yang optimal (Kemenkes RI, 2020; Potter et al., 2021).
Kesimpulan
Latihan Range of Motion (ROM) merupakan intervensi keperawatan berbasis bukti yang memiliki peran penting dalam rehabilitasi pasien pasca stroke. Pelaksanaan latihan secara benar, teratur, dan berkesinambungan mampu mempertahankan mobilitas sendi, meningkatkan kekuatan otot, mencegah komplikasi akibat imobilisasi, serta meningkatkan kemandirian pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Keterlibatan aktif keluarga bersama tenaga kesehatan menjadi faktor penting dalam keberhasilan rehabilitasi sehingga kualitas hidup pasien pasca stroke dapat meningkat secara optimal (Kemenkes RI, 2020; Powers et al., 2020; Winstein et al., 2016).
Daftar Pustaka
Brunner, L. S., & Suddarth, D. S. (2022). Brunner & Suddarth's textbook of medical-surgical nursing (15th ed.). Wolters Kluwer.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK): Tata laksana stroke. Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Potter, P. A., Perry, A. G., Stockert, P. A., & Hall, A. M. (2021). Fundamentals of nursing (10th ed.). Elsevier.
Powers, W. J., Rabinstein, A. A., Ackerson, T., Adeoye, O. M., Bambakidis, N. C., Becker, K., et al. (2020). Guidelines for the early management of patients with acute ischemic stroke: 2019 update to the 2018 guidelines for the early management of acute ischemic stroke. Stroke, 51(7), e364–e467.
Winstein, C. J., Stein, J., Arena, R., Bates, B., Cherney, L. R., Cramer, S. C., et al. (2016). Guidelines for adult stroke rehabilitation and recovery. Stroke, 47(6), e98–e169.
Biodata Penulis
Chendhy Tha Lorenza, Amd. Kep
Bekerja di RSUD Dr. (H.C) Ir. Soekarno dari tahun 2022 – Sampai sekarang
Tahun 2022 di Ruang Rawat Dewasa
Tahun 2023 di Ruang ICU 2
Tahun 2024- Sekarang di ruang SCU
Penulis
Chendhy Tha Lorenza, Amd. Kep