Pendahuluan
Masa bayi baru lahir merupakan periode yang sangat penting karena organ tubuh, terutama otak, mengalami perkembangan yang sangat pesat. Salah satu upaya untuk memastikan bayi tumbuh dan berkembang secara optimal adalah melalui Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK). Pemeriksaan ini bertujuan mendeteksi secara dini hipotiroid kongenital, yaitu kondisi ketika kelenjar tiroid bayi tidak mampu menghasilkan hormon tiroid dalam jumlah yang cukup sejak lahir.
Hipotiroid kongenital sering kali tidak menunjukkan gejala pada awal kehidupan sehingga banyak kasus tidak terdeteksi tanpa pemeriksaan khusus. Padahal, keterlambatan diagnosis dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, keterlambatan perkembangan, hingga penurunan kecerdasan yang bersifat permanen. Oleh karena itu, SHK menjadi salah satu program skrining bayi baru lahir yang sangat penting dan telah direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Apa itu Skrining Hipotiroid Kongenital?
Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) merupakan pemeriksaan laboratorium yang dilakukan pada bayi baru lahir untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya hipotiroid kongenital sebelum muncul gejala klinis. Pemeriksaan dilakukan dengan mengambil beberapa tetes darah dari tumit bayi yang kemudian diteteskan pada kertas saring khusus untuk dianalisis di laboratorium, umumnya melalui pemeriksaan kadar Thyroid Stimulating Hormone (TSH).
Mengapa SHK Sangat Penting?
Hormon tiroid memiliki peranan penting dalam pertumbuhan tubuh, perkembangan otak, pembentukan sistem saraf, metabolisme, serta perkembangan fisik bayi. Kekurangan hormon tiroid pada masa awal kehidupan dapat mengakibatkan kerusakan otak yang tidak dapat diperbaiki apabila tidak segera diobati.
Hipotiroid kongenital sering disebut sebagai “silent disease” karena sebagian besar bayi tampak sehat saat lahir. Gejala khas biasanya baru muncul beberapa minggu atau bulan kemudian, seperti bayi tampak lemas, sulit menyusu, mengalami konstipasi, kulit kering, lidah besar, atau pertumbuhan yang lambat. Ketika gejala tersebut mulai tampak, kerusakan perkembangan otak dapat saja sudah terjadi.
Melalui SHK, bayi yang mengalami hipotiroid kongenital dapat segera memperoleh terapi hormon tiroid (levotiroksin). Apabila pengobatan dimulai sedini mungkin sesuai rekomendasi medis, sebagian besar bayi dapat tumbuh dan berkembang hampir sama dengan anak yang sehat.
Kapan SHK Dilakukan?
Waktu terbaik pelaksanaan SHK adalah saat bayi berusia 48–72 jam setelah lahir. Pada kondisi tertentu, pemeriksaan dapat dilakukan setelah usia 24 jam hingga sebelum bayi berusia 14 hari. Pemeriksaan dilaksanakan oleh tenaga kesehatan terlatih di fasilitas pelayanan kesehatan.
Bagaimana Proses Pemeriksaannya?
Prosedur SHK cukup sederhana dan aman, yaitu:
- Tumit bayi dibersihkan terlebih dahulu.
- Petugas mengambil beberapa tetes darah menggunakan jarum steril.
- Darah diteteskan pada kertas saring khusus (dried blood spot).
- Sampel dikirim ke laboratorium untuk pemeriksaan.
- Hasil akan diinformasikan kepada fasilitas kesehatan dan orang tua apabila diperlukan pemeriksaan lanjutan.
Proses ini hanya berlangsung beberapa menit dan tidak membahayakan bayi.
Apa yang Dilakukan Jika Hasil SHK Tidak Normal?
Hasil skrining yang tidak normal belum tentu menunjukkan bayi menderita hipotiroid kongenital. Hasil tersebut hanya menunjukkan bahwa bayi memerlukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis. Bila diagnosis hipotiroid kongenital ditegakkan, dokter akan segera memberikan terapi hormon tiroid dan melakukan pemantauan secara berkala terhadap pertumbuhan, perkembangan, serta kadar hormon tiroid bayi.
Peran Orang Tua
Keberhasilan program SHK sangat bergantung pada keterlibatan orang tua. Hal-hal yang perlu dilakukan antara lain:
- Memastikan bayi menjalani SHK sesuai waktu yang dianjurkan.
- Menyimpan hasil pemeriksaan dengan baik.
- Datang kembali apabila diminta melakukan pemeriksaan ulang.
- Memberikan obat secara teratur apabila diresepkan dokter.
- Mengikuti jadwal kontrol untuk memantau tumbuh kembang bayi.
Edukasi kepada keluarga juga penting agar mereka memahami bahwa pemeriksaan ini merupakan investasi bagi kesehatan dan kecerdasan anak di masa depan.
Kesimpulan
Skrining Hipotiroid Kongenital merupakan pemeriksaan sederhana, aman, dan sangat bermanfaat untuk mendeteksi gangguan fungsi tiroid sejak dini pada bayi baru lahir. Karena sebagian besar bayi dengan hipotiroid kongenital tidak menunjukkan gejala pada awal kehidupan, SHK menjadi langkah penting untuk mencegah keterlambatan tumbuh kembang dan kecacatan intelektual yang dapat terjadi secara permanen. Dengan deteksi dini, pengobatan yang cepat, serta dukungan orang tua, bayi yang mengalami hipotiroid kongenital memiliki peluang besar untuk tumbuh sehat, cerdas, dan memiliki kualitas hidup yang baik.
Daftar Pustaka
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK). Ayo Sehat Kemenkes RI. 2025.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK). Ayo Sehat Kemenkes RI.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Hipotiroid Kongenital. Ayo Sehat Kemenkes RI.
- Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Pentingnya Skrining Hipotiroid pada Bayi. 2015.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2014 tentang Skrining Hipotiroid Kongenital.
- UKK Endokrinologi Anak dan Remaja IDAI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran: Diagnosis dan Tata Laksana Hipotiroid Kongenital. Jakarta: IDAI; 2017.
Penulis
Oci Lia Ramona Sari, S.Kep., Ners